GRATIS SKRIPSI AKUNTANSI

CONTOH SKRIPSI AKUNTANSI GRATIS ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa akuntansi mendapatkan CONTOH SKRIPSI AKUNTANSI sebagai rujukan dalam menyelesaikan tugas SKRIPSI AKUNTANSI. Blog ini menyediakan database ribuan CONTOH SKRIPSI AKUNTANSI yang dapat anda download secara gratis.

SKRIPSI AKUNTANSI : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT PERILAKU WAJIB PAJAK UNTUK MENGGUNAKAN E-FILLING

Senin, 15 Agustus 2011

Skripsi akuntansi : Perkembangan Teknologi Informasi (TI) saat ini banyak memberikan
manfaat dan kemudahan pada berbagai aspek kegiatan bisnis (Firmawan, 2009).
TI merujuk pada teknologi yang digunakan dalam menyampaikan maupun
mengolah informasi. Menurut Dewi (2009), peranan TI dalam berbagai aspek
bisnis dapat dipahami karena sebagai sebuah teknologi yang menitikberatkan pada
pengaturan sistem informasi dengan penggunaan komputer, TI dapat memenuhi
kebutuhan informasi dunia bisnis dengan cepat, tepat waktu, relevan, dan akurat.
Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan teknologi telah
mengalami kemajuan, termasuk di dalamnya perkembangan pada teknologi
kearsipan (Dewi, 2009). Kemajuan teknologi dalam teknologi kearsipan yaitu
dengan adanya inovasi baru pada proses pengarsipan yaitu arsip elektronik.
Menurut Pratama (2008), arsip elektronik tentu saja lebih bersifat praktis dan
memiliki tingkat risiko yang lebih kecil. Teknologi kearsipan yang lebih canggih
yaitu arsip elektronik telah digunakan oleh berbagai instansi-instansi dan juga
pelaku bisnis. Arsip elektronik juga dimanfaatkan oleh Departemen Keuangan
untuk mendokumentasikan semua arsip-arsipnya.
Di bidang perpajakan khususnya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak telah
diimplementasikan arsip elektronik. Arsip elektronik dimanfaatkan oleh
Direktorat Jenderal Pajak untuk mendokumentasikan semua arsip-arsipnya. Ini merupakan suatu pembaharuan dalam sistem perpajakan yang dilakukan oleh
Direktorat Jenderal Pajak. Menurut Dewi (2009), pembaharuan dalam sistem
perpajakan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perpajakan tersebut tidak lain
adalah sebagai bagian dari reformasi perpajakan (tax reform), khususnya
administrasi perpajakan. Berbagai terobosan yang terkait dengan aplikasi
Teknologi Informatika dalam kegiatan perpajakan pun terus dilakukan guna
memudahkan, meningkatkan serta mengoptimalisasikan pelayanan kepada Wajib
Pajak (Novarina, 2005).
Dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-undang No.28 Tahun 2007 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, disebutkan bahwa : “Penyampaian
Surat Pemberitahuan dapat dikirimkan melalui pos dengan tanda bukti pengiriman
surat atau dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan”. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat bahwa pelaporan SPT, secara
umum yang selama ini dilakukan adalah dengan menyampaikan langsung ke
Kantor Pelayanan Pajak, atau dikirim melalui pos secara tercatat. Dengan sistem
ini, Wajib Pajak harus datang dan bertemu langsung dengan petugas pajak. Sistem
ini juga membutuhkan sumber daya manusia yang banyak, memerlukan ruang
yang luas, memperlambat pelayanan karena proses pengirimannya secara manual
(Dewi, 2009). Lebih lanjut kesalahan dalam perekaman lebih mudah terjadi.
Sehingga dibutuhkan sistem administrasi dan pelayanan yang lebih cepat dan
akurat diseluruh Kantor Pelayanan Pajak.
Menjawab dan menyikapi meningkatnya kebutuhan komunitas Wajib Pajak
yang tersebar di seluruh Indonesia akan tingkat pelayanan yang harus semakin baik, membengkaknya biaya pemrosesan laporan pajak, dan keinginan untuk
mengurangi beban proses administrasi laporan pajak menggunakan kertas, maka
Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor
KEP-88/PJ./2004 tanggal 14 Mei 2004 (BN No. 7069 hal. 4B) tentang
Penyampaian Surat Pemberitahuan secara Elektronik (Novarina, 2005). Pada
tanggal 24 Januari 2005 bertempat di Kantor Kepresidenan, Presiden Republik
Indonesia bersama-sama dengan Direktorat Jenderal Pajak meluncurkan produk e-
Filling atau Electronic Filing System yaitu sistem pelaporan/penyampaian pajak
dengan Surat Pemberitahuan (SPT) secara elektronik (e-Filling) yang dilakukan
melalui sistem on-line yang real time.
Dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak tersebut dinyatakan bahwa
Penyampaian Surat Pemberitahuan secara elektonik (e-SPT) dilakukan melalui
Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (Application Service Provider) yang ditunjuk
oleh Direktur Jenderal Pajak (Novarina, 2005). Untuk pengaturannya lebih lanjut
maka dikeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-05/PJ./2005
tanggal 12 Januari 2005 tentang Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan
secara Elektronik (e-Filling) melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP).
Menurut Novarina (2005), perubahan yang meliputi pelayanan kepada
Wajib Pajak dari yang semula Wajib Pajak harus menyampaikan ke Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) secara langsung, sekarang ini penyampaian Surat
Pemberitahuan (SPT) dapat dilakukan secara online di mana saja dan kapan saja.
Penggunaan e-filling ini dilakukan bertujuan agar Wajib Pajak memperoleh
kemudahan dalam memenuhi kewajibannya, sehinggga pemenuhan kewajiban perpajakan dapat lebih mudah dilaksanakan dan tujuan untuk menciptakan
administrasi perpajakan yang lebih tertib dan transparan dapat dicapai (Gowinda,
2010).
Menurut Wiyono (2008), e-filling adalah sebuah layanan pengiriman atau
penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) secara elektronik baik untuk Orang
Pribadi maupun Badan (perusahaan, organisasi) ke Direktur Jendral Pajak melalui
sebuah ASP (Application Service Provider atau Penyedia Jasa Aplikasi) dengan
memanfaatkan jalur komunikasi internet secara online dan real time, sehingga
Wajib Pajak (WP) tidak perlu lagi melakukan pencetakan semua formulir laporan
dan menunggu tanda terima secara manual.
Menurut Novarina (2005), layanan e-filling bertujuan untuk menyediakan
fasilitas pelaporan SPT secara elektronik (via internet) kepada wajib pajak,
sehingga wajib pajak orang pribadi dapat melakukannya dari rumah atau
tempatnya bekerja, sedangkan wajib pajak badan dapat melakukannya dari lokasi
kantor atau usahanya. Hal ini akan dapat membantu memangkas biaya dan waktu
yang dibutuhkan oleh Wajib Pajak untuk mempersiapkan, memproses dan
melaporkan SPT ke Kantor Pajak secara benar dan tepat waktu (Dewi, 2009). Ini
berarti juga akan memberikan dukungan kepada Kantor Pajak dalam hal
percepatan penerimaan laporan SPT dan perampingan kegiatan administrasi,
pendataan (juga akurasi data), distribusi dan pengarsipan laporan SPT.
Namun dalam praktiknya, sistem ini bukan merupakan hal yang mudah
untuk dilaksanakan. Hal tersebut dikarenakan sistem ini masih baru sehingga
masih terdapat kekurangan-kekurangan dan masih banyak hal-hal yang harus dipahami yang terkait dengan kesiapan sumber daya manusia, sarana serta
perangkatnya sehingga butuh proses dan waktu panjang, disamping harus
mengikuti perkembangan Teknologi Informatika (Novarina, 2005).
Beberapa Penelitian terdahulu mencoba untuk meneliti faktor-faktor yang
mempengaruhi penggunaan teknologi informasi (technology usage). Venkatesh
dan Moris (2000) melakukan penelitian untuk melihat perbedaan gender terhadap
faktor sosial dan peran mereka dalam penerimaan teknologi dan perilaku pemakai
dengan technology acceptance model (TAM). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa minat pemanfaatan sistem informasi dan kondisi yang memfasilitasi
pemakai berpengaruh terhadap penggunaan sistem informasi.
Penelitian selanjutnya oleh Venkatesh et al., (2003) yang mereview dan
menggabungkan beberapa model penerimaan SI. Hasil dari penelitian ini adalah
ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, dan faktor sosial mempunyai pengaruh
terhadap minat pemanfaatan SI sedangkan minat pemanfaatan SI dan kondisi yang
memfasilitasi pemakai berpengaruh terhadap penggunaan SI.
Wang, et al. (2003) meneliti tentang determinan user acceptance dari
internet banking pada bank komersial di Taiwan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa computer self-efficacy berpengaruh signifikan positif terhadap persepsi
kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan, serta berpengaruh signifikan
negatitif terhadap persepsi kredibilitas. Hasil penelitian lainnya adalah computer
self-efficacy berpengaruh signifikan positif terhadap behavioral intention.
Pikkarainen, et al. (2004) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi
penerimaan Sistem online banking oleh pelanggan pada perusahaan perbankan di Finlandia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perceived usefulness,
perceived ease to use, perceived enjoyment, security dan privacy, memiliki
pengaruh terhadap penerimaan system.
Penelitian yang dilakukan oleh Venkatesh et al., (2003) telah diteliti
kembali oleh Handayani (2007) yang melihat hubungan keempat variabel
independen dari teori UTAUT terhadap minat dan penggunaan sistem informasi.
Hasilnya adalah ekspektasi kinrja, ekspektasi usaha, faktor sosial dan kondisi
yang memfasilitasi berpengaruh positif terhadap minat pemanfaatan tetapi untuk
minat pemanfaatan sistem informasi yang tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap penggunaan sistem informasi.
Poon (2008) meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
penggunaan jasa e-banking di Malaysia. Faktor-faktor tersebut adalah
kenyamanan (convenience), aksesibilitas (accessibility), ketersediaan fitur (feature
availability), manajemen dan citra bank (bank management and image),
Keamanan (security), kerahasiaan (privacy), desain (design), isi (content),
kecepatan (speed), serta biaya bank (fee and charges) berpengaruh signifikan
positif terhadap tingkat penggunaan e-banking. Sedangkan desain (design) tidak
berpengaruh signifikan positif terhadap penggunaan e-banking.
Penelitian yang dilakukan oleh Amroso dan Gardner (2004) yang meneliti
tentang minat perilaku dalam menggunakan internet. Memberikan hasil bahwa
pengalaman dan kesukarelaan dalam menggunakan internet berpengaruh terhadap
minat prilaku terhadap penggunaan internet, Persepsi Kerumitan menggunakan
internet dan jenis kelamin dapat menjadi hubungan yang signifikan terhadap persepsi kegunaan (seperti pada persepsi kemudahan) dan secara langsung
mempengaruhi persepsi penggunaan.
Guriting dan Ndubisi (2006) mengevaluasi tentang persepsi pelanggan
(costumer perception) dan minat perilaku (behavioral intention) online banking di
Malaysia. Hasil penelitiaannya adalah persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan
berpengaruh signifikan positif terhadap minat perilaku dan pengalaman tidak
berpengaruh signifikan terhadap persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan
penggunaan.
Penelitian yang dilakukan Wiyono (2008) terhadap para Wajib Pajak yang
telah mencoba atau menggunakan e-filling di Indonesia menunjukkan hasil bahwa
kewajiban menggunakan e-filling akan menyebabkan tidak signifikannya
pengaruh minat perilaku terhadap penggunaan senyatanya. Selain itu kerumitan
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan senyatanya, demikian
pula jenis kelamin juga mempunyai pengaruh signifikan terhadap persepsi
kemudahan penggunaan.
Dewi (2009) juga melakukan studi empiris terhadap penerimaan Wajib
Pajak dalam menggunakan e-filling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perceived usefulness, perceived ease of use, complexity, voluntaries berpengaruh
positif terhadap minat pengguna e-filling. Sedangkan experience, attitude, security
and privacy, design and content, speed berpengaruh negatif terhadap minat
pengguna e-filling.
Penelitian mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat
perilaku wajib pajak untuk menggunakan e-filling ini mengacu pada penelitian yang pernah dilakukan Wiyono (2008) terhadap penerimaan wajib pajak terhadap
e-filling di Indonesia dengan menggunakan model kesuksesan Technology
Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Amroso dan Gardner.
Penelitian ini layak dilakukan untuk mengetahui apakah teori tentang
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap minat perilaku wajib pajak untuk
menggunakan e-filling dengan obyek penelitian berbeda akan memperoleh hasil
yang sama ataukah berbeda hasil. Selain itu, penelitian mengenai minat perilaku
untuk menggunakan e-filling di Indonesia masih sedikit. Hal tersebut dikarenakan
jumlah pengguna e-filling yang relatif kecil. Menurut data yang diperoleh dari
Kantor Wilayah DJP I Jawa Tengah, dari 221.000 Wajib pajak Kota Semarang
yang terdaftar, hanya sekitar 250 Wajib Pajak yang terdaftar menggunakan
e-filling. Dari data tersebut, sebagian besar yang menggunakan e-filling adalah
Wajib Pajak Badan, sedangkan WP Orang Pribadi hanya beberapa saja yang
menggunakan fasilitas tersebut. Dapat dikatakan hanya sekitar 8% Wajib Pajak
Badan yang terdaftar menggunakan e-filling dari total keseluruhan Wajib Pajak
Kota Semarang. E-filling yang memberikan fasilitas yang lebih memudahkan,
praktis dan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja bagi WP, seharusnya
dapat menimbulkan respon yang bagus dan banyak WP yang menggunakannya,
tetapi mengapa justru hanya sekitar 8% saja yang menggunakan fasilitas yang
diberikan DJP tersebut. Maka dari itu, penelitian mengenai minat perilaku Wajib
Pajak untuk menggunakan e-filling ini menarik untuk diteliti.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Wiyono (2008) adalah tahun
penelitian dan variabel penelitian yang digunakan, yang mana pada penelitian Wiyono (2008) dilakukan pada tahun 2008, sedangkan penelitian ini dilakukan
pada tahun 2010. Pada variabel penelitian yang digunakan, penelitian ini
menghilangkan variabel jenis kelamin (gender), persepsi kegunaan, persepsi
kemudahan penggunaan dan sikap seperti yang digunakan Wiyono (2008) dan
menambahkan variabel ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, keamanan dan
kerahasiaan, serta kecepatan (speed). Variabel ekspektasi kinerja dan ekspektasi
usaha seperti yang digunakan Venkatesh (2003) sedangkan variabel keamanan
dan kerahasiaan, serta kecepatan yang digunakan pada penelitian Poon (2008).
Pada penelitian ini, penghilangan variabel jenis kelamin (gender) karena sampel
penelitian berupa Wajib Pajak badan, bukan berupa Wajib Pajak orang pribadi.
Penelitian ini mengambil sampel Wajib Pajak Badan di Semarang karena Wajib
Pajak Orang Pribadi yang menggunakan e-filling relatif masih sedikit.

0 comments:

Poskan Komentar